Menurut Sanburnd dalam penelitian Subandowo (2017:197) penamaan pada
generasi-generasi awalnya terlahir dari
generation theory (teori generasi) yang muncul dan
bermula di Amerika, khusunya Amerika Serikat.
Pencetus teori generasi ini menarik
kesimpulan pemahaman berupa pengelompokan
berbagai generasi yang didasarkan pada
tahun kelahirannya. Jumlah Generasi Z
diseluruh dunia berdasarkan data yang diunduh
UN World Population Estimate (2015) bahwa
kurang lebih 2,5 miliar jumlah jiwa (34,05%)
dan berdasarkan Indonesia-Sensus (2010)
sekitar 68,02 juta jiwa (28,86%). Menurut
Tapscott (2013:18-39) membagi demografi
penduduk Amerika ke dalam beberapa
kelompok generasi sebagai berikut:
a. Kelompok generasi yang lahir antara tahun
1946-1964 atau sering disebut dengan istilah
The Baby Boom
b. Kelompok generasi yang lahir antara tahun
1965-1976 atau sering disebut dengan istilah
The Baby Bust
c. Kelompok generasi yang lahir antara tahun
1977-1997 atau sering disebut dengan istilah
The Millennial
d. Kelompok generasi yang lahir antara
tahun1998 hingga kini, atau sering disebut dengan
istilah Generation Net (Generasi Z)
Djiwandono
dalam penelitian Susana (2012:62) mengemukakan bahwa generasi Z memiliki gaya
yang cenderung selalu belajar untuk aktif, general, sensing dan secara visual. Generasi
Z yang aktif maksudnya mudah mempelajari sesuatu dengan mempraktikkan sendiri
apa yang ingin dipelajarinya. General berarti seorang individu yang biasanya
belajar dengan cara melompat dari materi satu ke materi yang lain, kemudian menyerap
materi tersebut secara random tanpa memerhatikan keterkaitannya satu sama lain
dan mendapatkan sesuatu yang diinginkan secara tiba-tiba. Hal tersebut sama
dengan pembelajar yang global dimana ia
mampu mengatasi permasalahan yang kompleks secara cepat dengan merangkai segala
sesuatunya menjadi cara baru ketika mereka dapat melihat gambaran umumnya. Hal
tersebut menyebabkan anak Generasi Z tidak sabar untuk menunggu proses. Mereka
selalu mengandalkan jawaban dari setiap pertanyaan dan tantangan hidup dari
informasi-informasi yang ada diinternet. Mereka tidak mengetahui bahwa
persoalan hidup tidak semua bisa diatasi dan dipecahkan melalui kecanggihan teknologi.
Menurut
Tapscott dalam penelitian Teguh Dwi Putranto (2018:19) bahwa Generasi Z adalah
generasi teknologi. Mereka telah mengenal media sosial sejak dini atau dalam
hal ini Generasi Z tumbuh di dunia yang hampir keseluruhan kehidupannya
terhubung dengan teknologi sejak lahir. Generasi ini disebut generasi internet
karena mereka tumbuh di era digital yang akhirnya membuat mereka mampu mengakses
informasi dengan cepat meski diusia yang masih sangat muda. Generasi ini sangat
sering berkomunikasi dengan semua kelompok, terutama jaringan sosial seperti facebook,
twitter, instagram, WhatsApp dll. Mereka biasanya peka dan toleran terhadap
budaya yang berbeda dan sangat memperdulikan lingkungan Menurut WHO (2001 dalam
Herrman & Llopis, 2005), kesehatan mental adalah kondisi psikologis di mana
individu menyadari kemampuannya, mampu menghadapi stres dan menyelesaikan
dengan cara positif, mampu bekerja produktif dan efisien, dan mampu memberikan kontribusi
terhadap komunitas di mana dia bernaung. Penelitian ini menunjukkan bahwa kesehatan mental dapat ditingkatkan lewat
pemberian psikoedukasi dan memberdayakan masyarakat untuk terlibat sebagai
kader sehat jiwa.
Kesehatan mental adalah dasar bagi individu untuk berfungsi optimal sebagai seorang manusia dan menjalankan perannya di keluarga, lingkungan kerja, dan komunitas. Makna kesehatan mental telah diperluas dari sekadar tidak memiliki penyakit fisik kepada keberfungsian psikologis manusia dalam banyak spektrum kehidupannya. Kesehatan mental dimaknai kembali sebagai keseimbangan antara kesehatan fisik, sosial, budaya, psikologis, dan faktor personal lainnya seperti pemahaman terhadap diri sendiri.
Devora Kestel, Direktur Departemen Kesehatan Mental dan Pengguna NAPZA WHO, pernah mengingatkan bahwa peningkatan jumlah dan tingkat keparahan penyakit mental akibat pandemic Covid-19 kemungkinan akan terjadi. Oleh karena itu, pemerintah harus menempatkan permasalahan ini sebagai prioritas yang harus diatasi (Republika.co.id, 15 Mei 2020). Sejalan dengan pernyataan Devora Kestel, dalam Laporan Gugus Tugas Covid-19 disampaikan bahwa 80% persoalan Covid-19 adalah persoalan psikologis, sedangkan sisanya adalah persoalan kesehatan fisik. Hal ini berarti permasalahan kesehatan mental perlu mendapat perhatian pemerintah.
.png)
0 Komentar